Selasa, 25 September 2012

Next Gene : 3 Tokoh yang Membuktikan kalo KEKURANGAN MEMBAWA KEBERHASILAN


    Sementara banyak orang yang tubuhnya sempurna, normal, dan nggak kekurangan justru gak punya prestasi, mereka ini justru meraih sukses meski kondisinya kekurangan. Dan hebatnya, makin hari bisa dibilang makin banyak juga tokoh-tokoh yang meski dianggap kurang, tapi justru bisa berprestasi luar biasa.

Berikut adalah beberapa diantaranya :

1.   Natalia Partyka


Cabang tenis meja perempuan di Olimpiade London pertengahan taun lalu tiba-tiba menarik perhatian yang cukup besar. Uniknya, pertandingan yang banyak disorot bukan pertandingan final, melainkan pertandingan perebutan peringkat ke-32. Apa sebabnya? Ternyata disana bertanding Mie Skov asal Denmark, melawan Natalia Partyka, asal Polandia. Ya, yang unik di sini adalah Natalia merupakan petenis difabel. Ia hanya punya satu tangan, yakni tangan kiri, dan melawan Mie yang tubuhnya lengkap. Natalia yang sebelumnya adalah juara tenis meja wanita di Olimpiade Penyandang Cacat ini pun akhirnya berhasil menang. Cewe kelahiran taun 1989 ini emang udah merajai cabang tenis meja di berbagai kejuaraan penyandang difabel. Dan di taun 2012 inilah, ia kembali maju menantang jawara tenis meja putri dari berbagai belahan dunia yang punya tubuh lengkap, setelah sebelumnya ia juga maju di Olimpiade Beijing 2008. Meski ia nggak merebut medali, tapi tetap aja, ia menjadi inspirasi dan juga salah satu petenis meja yang paling jago di dunia.

2.  Sabar Gorky



Kalo denger namanya, mungkin kamu bingung , ini nama orang Indonesia atau orang Rusia yah? Tapi, Sabar yang ini emang orang Indonesia, kelahiran Solo tahun 1968. Nama Gorky ia dapetin dari julukan yang diberi salah seorang staf KBRI di Rusia. Gorky adalah nama seorang sastrawan besar di Rusia, Maksim Gorky, dimana nama itu berarti pahit atau hidup yang berliku. Dan memang, hidup Kang Sabar ini emang berliku. Dilahirkan dalam keadaan lengkap, pada tahun 1990 ia mengalami kecelakaan dan kaki kanannya tergilas kereta dan harus diamputasi. Ia sempat putus asa, tapi Kang Sanar yang memang hobi naik gunung sekaligus juga panjat dinding ini lalu bangkit. Ia mau kembali naik gunung. Ia mencoba mendaki ke gunung Lawu, Solo tapi gagal. Meski demikian, ia mencoba lagi dan akhirnya berhasil naik ke puncak Lawu.

Hal ini bikin semangat Kang Sabar kembali bangkit. Ia pun bertekad menaklukkan gunung lain meski kondisinya udah cacat. Gunung demi gunung ia taklukkan. Hingga yang fenomenal adalah saat ia mendaki puncak Elbrus di Rusia, salah satu dari 7 puncak tertinggi di dunia. Prestasi itu bikin dia tercatat sebagai tuna daksa pertama yang pertama berhasil mendaki puncak Elbrus dari jalur utara, yang dikenal sebagai jalur paling berbahaya. Keberhasilan itu nggak menaklukkan Kilimanjaro di Afrika yang lebih tinggi dari Elbrus dan berhasil! Hebatnya, disetiap keberhasilan misinya, Kang Sabar gak lupa menunjukkan identitas Indonesianya yakni dengan menancapkan bendera merah putih dan menyanyikan lagu kebangsaan.

3.  Oscar Pistoriusi



Manusia tanpa kaki tercepat, itulah salah satu julukan Oscar Pistorius. Julukan lain adalah Blade Runner. Yup, cowo Afrika Selatan kelahiran 1986 ini emang gak puya kaki. Sejak bayi, kedua kakinya diamputasi karena gak punya otot fibula. Tapi, Oscar tetap dilahirkan jadi atlet. Sejak remaja, ia aktif di olahraga rugby, polo air, tenis, bahkan gulat. Setelah ia mengalami cidera parah di rugby pada tahun 2003, maka barulah ia beralih ke lari.

Gimana cara Oscar lari? Ia pake kaki palsu bernama Cheetah Flex foot. Ia bertanding di kejuaraan buat penyandang difabel. Namun, saat hendak mengikuti lomba lari normal, sempat terjadi kontroversi. Ia sempat ditolak karena kaki palsunya dianggap bisa menguntungkan dan mempercepat lari. Ini karena emang ada aturan nggak boleh pake bantuan dalam lari. Ia ditolak ikut Olimpiade 2008 di Beijing. Namun, pengadilan kemudian membatalakan keputusan itu karena menganggap gak ada bukti Oscar lebih diuntungkan. Sayang, ia tetap gagal ikut ke Beijing karena gagal masuk seleksi tim negaranya. Baru 4 taun kemudian, di Olimpiade London, ia kembali dan berhasil ikut. Bahkan, kali ini ia mencatat prestasi yang cukup mengesankan dengan berhasil masuk semifinal dan mencatat waktu 45,07 detik untuk lari 400 meter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar